Minggu, 07 November 2010

KENAPA HARUS MENGAKTIFKAN OTAK KANAN KITA ?



KENAPA HARUS MENGAKTIFKAN
OTAK KANAN KITA?
 ( Oleh: Arman Andi Amirullah )

Berbagai macam respon akan timbul apabila seseorang mendengar informasi  tentang kehebatan otak kanan manusia, ada yang merespon dengan hanya menganggap biasa-biasa saja, ada yang sama sekali tidak pernah mendengar tentang adanya otak kanan manusia, ada juga yang tidak percaya bahwa otak terbagi dalam dua bagian dengan fungsinya masing-masing, ada yang menganggap bahwa otak kanan berfungsi atau aktif secara otomatis apabila organ tubuh bagian kiri sedang bergerak, bahkan ada yang beranggapan bahwa “Tidak ada pembagian otak kiri, otak kanan, maupun otak tengah, yang mereka percayai adalah otak manusia hanyalah satu”.
Itulah gambaran informasi tentang pengetahuan kita berkaitan dengan  kehebatan otak kanan manusia. Tapi tahu- kah Anda bahwa :

1. Kemampuan Otak Kanan 90%, Otak Kiri Hanya 10-12%.
Hasil penelitian mutakhir di AS bahwa: Peran LOGIKA dalam membuat orang menjadi sukses hanya 4-6%, sedangkan 94-96% adalah tanggung jawab OTAK KANAN yang banyak berhubungan dengan Inovasi, kreativitas, rekayasa, naluri, intuisi, daya cipta, kejujuran, keuletan, tanggungjawab, kesungguhan, spirit, kedisiplinan, etika, empati, dll.(Media Indonesia:16/01-06).
Tugas-tugas otak kiri yaitu berhubungan dengan angka-angka, bahasa, analisa, logika, intelektual, ilmu pengetahuan. Sedangkan otak kanan bertanggungjawab dalam hal imajinasi, kreativitas, seni, musik, inovasi, daya cipta, daya raya, intuisi, otak bawah sadar, keikhlasan, kebahagiaan, spirit, keuletan, kejujuran, keindahan,dll. Selain diurusi oleh otak kiri maka menjadi urusan otak kanan.
Disamping itu Otak Kanan dapat merekam dengan cepat dan tersimpan selamanya dalam memory otak, sel-sel darah manusia dapat menjadi cadangan tempat penyimpanan memory manakala memory otak kita penuh. Sedangkan kapasitas kemampuan otak kanan dalam menyimpan memory adalah 10 pangkat 5 juta kilo meter, yang kalau dihitung deretan angka nol di belakangnya adalah sebanding dengan jarak antara Bumi dan Bulan 14 kali pulang pergi (Super Great Memory, Irwan Widiatmoko, 2007).

2. Memiliki Kemampuan Imajinasi yang Tinggi.
Apa pentingnya Imajinasi ?
Albert Einstein menemukan teori relativitas karena kekuatan imajinasinya, kemudian sewaktu duduk di bangku sekolah oleh  gurunya mengajarinya tentang kekuatan daya imajinasi .
Salah satu rahasia kecerdasan orang Yahudi adalah kekuatan imajinasi  dianggap lebih kuat dari kenyataan (Mengungkap Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi, Eran Katz, 2009).
Andrea Hirata, penulis buku Laskar Pelangi menjadi sukses bukan karena ilmu finance yang mereka pelajari di Sourbone Prancis, akan tetapi karena kemampuan daya imajinasinya meramu perjalanan hidupnya menjadi suatu cerita yang menarik, dalam novel Tetralogi LASKAR PELANGI, sekarang menjadi novel berkelas dunia karena telah dialih bahasakan ke dalam berbagai bahasa di dunia, tentunya kita kenal filmnya pernah menghebohkan negeri ini.
Salah satu orang yang bisa membiayai untuk berwisata ke luar angkasa adalah pembuat game komputer dari Amerika Serikat, keahlian untuk merancang game komputer tentunya membutuhkan kemampuan imajinasi yang tinggi.
Salah satu orang terkaya di dunia, pemilik microsof adalah orang drop out dari perguruan tinggi yang memiliki tekad yang kuat dan daya imajinasi yang tinggi, sehingga mampu mendirikan perusahaan microsof yang dibangun dengan modal tekad yang kuat.
Pemilik perusahaan raksasa elektronik Jepang “ PANASONIC” adalah mantan penjaga toko sepeda (Matshushita Konoshuke).
Motivator sekaligus penulis buku terkenal Andri Wongso adalah anak dari keluarga miskin di Malang yang tidak tamat sekolah dasar tapi karena keberaniannya bermimpi (daya imajinasi) akhirnya menjadi bintang film di Hongkong serta membuat kata-kata mutiara yang ditulis di kertas pembatas buku bernama Harvest.

Bagaimana Pandangan Al Quran tentang pentingnya Imajinasi ?
Dalam QS.Al Jaatsiyah:5  “Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal”. Bukankah diperlukan daya imajinasi untuk bisa memahami bagaimana pergantian malam dan siang terjadi ?, bukankah juga memerlukan daya imajinasi untuk bisa merasakan kebesaran Tuhan dalam menciptakan hujan lalu dari hujan itu diturunkan untuk membuat bumi jadi hidup kembali(subur), lalu dengan kemampuan imajinasi pula dapat membayangkan bagaimana Allah menumbuhkan bermacam-macam buah-buahan dengan rasa yang beranekaragam (manis, asem, pahit, harum, kecut, berair, kenyal, legit, dsb) dengan sumber makanan yang sama yaitu dari air hujan yang tersimpan di dalam tanah.

Dalam QS.Al Baqarah:22 dikatakan “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
Bukankah kita butuh Imajinasi/membayangkan untuk bisa merasakan dan memahami makna bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap ?.
“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
(QS: AL Imran: 190-191) tanpa bantuan imajinasi kita tidak sanggup melihat dan merasakan langsung tanda-tanda yang dimaksud, dan tidak sanggup memikirkan penciptaan langit dan bumi. Sehingga ayat-ayat tersebut tidak bermakna bagi kita setelah membacanya.
Bahkan dalam hadist Nabi dikatakan “Sembahlah Tuhan-Mu seakan-akan engkau melihatnya, dan apabila kamu tidak sanggup melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah melihat kamu.”(IHSAN) Sangat jelas dalam hadist di atas perintah untuk seolah-olah melihat Allah dalam sholat adalah pekerjaan imajinasi atau kemampuan “membayangkan”.

“ Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” .(QS.An Nur:35)
Bukankah ayat di atas banyak menggunakan kata perumpamaan, seakan-akan, seperti, yang tentunya membutuhkan daya imajinasi yang kuat. Tahu-kah Anda kalau daya imajinasi adalah tanggungjawab otak kanan ?.

3. MEMILIKI AREA “THE GOD SPOT”.(Titik Tuhan)
Menurut penelitian oleh “neurolog” Michael Persinger di awal tahun 1990-an, kemudian penelitian yang lebih baru pada tahun 1997 oleh “neurolog” VS.Ramachandran bersama timnya di Universitas California mengenai adanya Titik Tuhan(God Spot) dalam otak manusia. Pusat spiritual yang terpasang ini terletak diantara hubungan-hubungan syaraf dalam cuping-cuping temporal otak. Melalui pengamatan terhadap otak dengan topografi emisi, positron, area-area syaraf tersebut akan bersinar manakala subjek penelitian diarahkan untuk mendiskusikan topik spiritual atau agama.( Berguru Kepada Allah, Abu Sangkan, 2009). Menurut ahli syaraf barat bahwa syaraf ini memiliki gejala yang unik karena tidak teraliri oleh darah sepangjang hari namun tidak mati, syaraf ini butuh darah hanya 2-4 detik saja sebanyak 5 kali sehari. Syaraf ini diyakini sebagai chip atau modem yang ditanam oleh Allah ke dalam otak manusia agar mampu menerima hal-hal yang berhubungan dengan spiritualitas dan ilmu yang datangnya langsung dari Sang Pencipta melalui ilham. Sebaliknya apabila syaraf ini tidak aktif maka orang tersebut sulit untuk menerima hal-hal yang berbau moral/etika apalagi spiritual. Mungkin pula syaraf ini yang tidak aktif pada anak didik kita sehingga sulit untuk membentuk karakter anak yang pada akhirnya sulit membangun karakter bangsa ini.
Disamping hal-hal yang telah diuraikan di atas, otak kanan juga memiliki kemampuan dalam hal rasa empati atau kepedulian yang tinggi, otak kanan juga memiliki kemampuan berkolaborasi dengan hati, memiliki kemampuan daya kreatif dan seni yang tinggi.
Selain itu keistimewaan otak kanan adalah memiliki gelombang otak bernama gelombang Alfha, gelombang ini yang bisa merasakan Keikhlasan, Kebahagiaan, ketenangan, kekhusu’an, relaxasi, hening, kepuasan, imajinatif, dll.(Quantu Ikhlas, Erbe Sentanu, 2007).

Maka pantaslah Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara lain karena tidak tahu kehebatan otak kanannya sehingga tidak kreatif, kurang peduli, kurang inovasi, kurang kreasi, tidak sungguh-sungguh, kurang ikhlas( banyak kepalsuan), kurang ide, kurang disiplin, kurang tanggung jawab, kurang menghargai orang lain, kurang menghargai keindahan, kurang menghargai kekuatan hati, kekuatan cinta, dan sebagainya.
Maka apakah kita masih mau menunda-nunda untuk mengaktifkan otak kanan anak-anak Bangsa...

Tulisan ini dipersembahkan untuk kemajuan bangsa, bagi orang yang mau berimajinasi/berpikir...



1 komentar:

  1. dari artikel di atas,saya jadi bingung menentukan otak saya yg dominan adalah otak bagian mana,karena sy merasa,dapat menggunakan otak kiri(analitis,logika,mtk) dan otak kanan(kreasi,imajinasi dll).

    BalasHapus